Sabtu kemarin saya ngurus surat pindah sekalian ngurus KTP baru ini…surat – surat dari asal saya, sudah beres semua, termasuk surat – surat dari RT RW ini,
Begitu saya ngurus, ke kelurahan, langsung saya disambut baik oleh petugasnya…begitu saya menyampaikan maksud saya kesini, beliau lgsng cari2 kertas formulir yang banyaknya se abrek itu…
Beliau dengan teliti menuliskan isi – isi form, hal ini memakan waktu 1 jam, untuk menulis Form tersebut, setelah selesai disuruh bayar 8 ribu, saya di kasih tau untuk mengurus ke BKKBC, yang kantor nya berada di Lingkungan pemkot… karena sudah pukul 12, saya disarankan untuk hari senen saja mengurus ke BKKBC.
Hari Senen… Ngantor…g sempet ngurus ke Pemkot,
Hari Selasa, baru saya ke BKKBC ( ternyata singkatan dari Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Catatan Sipil heheh baru tau)
Disana, ambil nomer antrian, setelah dipanggil, ditanya2 sedikit, disuruh fotokopi surat pindah dari kecamatan asal, dan disuruh beli map, biar g mudah hilang kali yah dokumen2nya…
Begitu udah kelar aku fotokopi, aku kasih ama ibu petugasnya, karena alasan telat administrasinya kena denda 20.000, biaya administrasi nya 51 ribu, jadi total saya bayar 71 ribu.
Begitu dah kelar, dikasih saya nota dari kertas buram, dengan cap dari BKKBC, disuruh dateng esok harinya untuk ambil dokumen2nya…
Esok harinya, Hari Rabu, saya datang, untuk ambil dokumennya, begitu selesai, saya disuruh ngurus ke kecamatan, untuk bikin KTP dengan menyerahkan dokumen – dokumennya…
Setelah itu langsung ke Kecamatan, nah disana masukin formulir, di terima dengan ibu petugasnya, disuruh foto besok hari aja untuk bikin KTP, kenapa ga bisa sekarang? alasannya belum dapat NIK dari BKKBC, ya udah saya terpaksa pulang…iseng dari pada pulang, sekalian nyari handphone baru ah.. hehehe
Udah pusing kan ngurus – ngurus surat tersebut, total pengeluaran Rp. 65 ribu, belum termasuk ma uang bensin dan uang fotokopi, termasuk uang makan hehehe,
IDE
Sebenarnya dari pada warga yang mo pindah dipusing kan dengan aturan birokrasi yang jelas – jelas kurang efisien itu, bisa disederhanakan dengan satu tempat pengurusan saja, yaitu stop sampai di kelurahan saja.
G usah ribet musti bolak – balik ke kecamatan, trus ke Pemkot, trus balik lagi ke Pemkot, trus kekecamatan…arggghhh ribet..
Kalau pemerintah serius dengan pengembangan sistem informasi online diseluruh pelosok Indonesia, saya yakin, ini akan memudahkan warga nya yang ingin mengurus tetek bengek apa lah yang berurusan dengan hal tersebut diatas, caranya?
Warga mengajukan surat pindah di kelurahan, trus oleh petugas memasukkan data yang baru ke komputer yang terintegrasi dengan data yang ada di BKKBC dan Kecamatan, dengan begitu, segala sesuatu langsung di urus oleh sistem yang bekerja di komputer online. Begitu mendapat persetujuan oleh pejabat yang berwenang saat itu juga langsung bisa di print, karena sifatnya online, segala pengurusan kependudukan pun dengan mudah dan cepat segera terselesaikan..
Atau ada ide lain?



Yah….Jakarta juga masih di jawa to…belum pindah di Sumatra, atau kalimantan…Bandung juga masih di Jawa to…
Semarang Juga masih di Jawa juga to…
hehehehee….apalagi Jogja juga masih di Jawa juga to…:d